jika ingin menjadi orang baik
Khutbah Jumat
S
syahputra
1 Mei 2026
5 menit baca
0 views
أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إلَّا...
أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Hari ini, di hadapan mimbar mulia ini, hati ini begitu teriris merenungi sebuah pertanyaan yang mungkin sering singgah, namun seringkali kita memilih untuk memalingkan muka: bagaimana caranya agar kita menjadi orang baik? Bukan sekadar baik di mata manusia, namun kebaikan yang meresap hingga ke relung jiwa, kebaikan yang diterima di sisi Tuhan semesta alam. Kebaikan yang sesungguhnya.
Kebaikan itu, Saudaraku, bukanlah riasan semata. Ia adalah pancaran dari hati yang bersih, dari jiwa yang tunduk patuh pada perintah Allah, dan dari pribadi yang senantiasa berupaya menjauhi murka-Nya. Ingatlah firman Allah yang menyentuh nurani kita, yang seharusnya membuat lutut ini bergetar:
قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ﴾
*"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka."* (QS. Ar-Ra'd: 11)
Betapa agungnya ayat ini. Ia bukan ancaman, melainkan sebuah panggilan. Panggilan untuk introspeksi diri, untuk melihat ke dalam diri kita sendiri. Adakah perubahan yang telah kita lakukan? Adakah upaya sungguh-sungguh untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin? Atau kita masih terbuai dalam buaian kelalaian, terus menerus mengulang kesalahan yang sama, seperti ombak yang terus menghantam karang tanpa pernah jera?
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Untuk menjadi orang baik, maka langkah pertama yang harus kita pijak dengan langkah gemetar adalah penyesalan yang tulus. Penyesalan yang lahir dari kesadaran yang mendalam akan betapa seringnya kita menyakiti Sang Pencipta dengan dosa-dosa kita. Dosa yang mungkin kecil di mata kita, namun besar di sisi Allah. Renungkanlah, betapa sering lisan ini berkata dusta, betapa sering mata ini memandang yang haram, betapa sering kaki ini melangkah ke tempat yang dimurkai-Nya. Hati ini pun seringkali tenggelam dalam kesombongan, iri, dan dengki.
Pernahkah terbayang di benak kita, bagaimana jika malaikat maut datang menjemput saat kita sedang bergelimang dosa? Betapa ngerinya kita menghadap Allah dengan tangan kosong, penuh nista dan celah kesalahan yang menganga lebar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam begitu mengkhawatirkan umatnya, beliau bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
"كُلُّ أُمَّتِي مُعَافَى إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ، فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا."
*"Setiap umatku akan dimaafkan kecuali al-mujāhirīn (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan sungguh, termasuk al-mujāhirīn adalah seseorang berbuat maksiat di malam hari, lalu Allah menutupi dosanya, namun di pagi hari ia menceritakan perbuatannya itu (kepada orang lain), seraya berkata: 'Wahai Fulan, semalam aku telah berbuat begini dan begitu.'"*
Bayangkan tangisan jiwa ketika kita terpaksa membuka aib kita sendiri di hadapan manusia, padahal Allah telah berusaha menutupi aib kita di dunia. Betapa hina di hadapan-Nya. Maka, tangisilah diri kita, tangisilah kelalaian kita yang panjang.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Setelah tangisan penyesalan itu, langkah berikutnya adalah membangun komitmen. Komitmen untuk berubah, untuk tidak kembali ke lembah dosa yang sama. Mulailah dari hal-hal kecil yang mulia. Ambillah wudhu dengan sempurna, shalat tepat waktu dengan kekhusyukan yang merasuk kalbu. Bacalah Al-Qur'an secara rutin, bahkan jika itu hanya beberapa ayat, namun dengan tadabbur dan perenungan yang mendalam. Sesungguhnya, firman Allah itu adalah penyejuk jiwa, pengobat hati yang luka:
قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ﴾
*"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."* (QS. Al-Isra': 82)
Tinggalkanlah teman-teman yang mengajakmu pada keburukan. Carilah lingkungan yang senantiasa mengingatkanmu kepada Allah dan akhirat. Seringlah berzikir, membasahi lisan dengan kalimat-kalimat thayyibah. Ingatlah, setiap kali lisanmu berzikir, Allah turut mengingatmu. Sungguh sebuah kehormatan yang tak terhingga!
قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ﴾
*"Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu (wahai kaum Mukmin), kepadaKu (Allah) lah Aku mengingatmu; dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."* (QS. Al-Baqarah: 152)
Menjadi orang baik adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir yang instan. Akan ada cobaan, akan ada godaan yang menguji keteguhan hati. Namun, jangan biarkan air mata penyesalan itu hanya mengalir sesaat lalu kering. Jadikan ia pupuk yang menyuburkan iman di dalam dada. Jaga hati kita dari penyakit-penyakit yang dapat merusak amal, seperti ujub (rasa bangga diri), riya' (pamer amal), dan sum'ah (ingin terkenal).
Ingatlah bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada. Dia lebih tahu niat kita daripada diri kita sendiri. Maka, jadikanlah setiap amal kebaikan kita semata-mata karena mengharap ridha-Nya, dengan harapan kita kelak bisa dikumpulkan bersama orang-orang saleh di surga-Nya yang abadi.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Biarlah tangisan ini menjadi awal perubahan. Biarlah getir penyesalan ini menemani langkah kita menuju perbaikan. Biarlah rasa takut akan siksa-Nya dan rindu akan rahmat-Nya membakar semangat kita untuk menjadi hamba Allah yang dicintai. Mohonlah pertolongan kepada Allah di setiap hembusan napas. Bukankah Allah ta'ala yang berfirman dengan penegasan yang lembut namun menggetarkan kalbu:
قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ﴾
*"Apakah orang yang berbakti di waktu malam hari dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya, (sama dengan orang kafir)? Katakanlah: 'Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sesungguhnya orang yang berakal lah yang dapat menerima pelajaran."* (QS. Az-Zumar: 9)
Sungguh, jawaban dari ayat itu adalah "TIDAK SAMA". Tidak sama antara orang yang larut dalam kenikmatan dunia tanpa persiapan bekal akhirat, dengan orang yang merintih di malam hari, menangisi kesalahan dan memohon ampunan serta rahmat dari Tuhannya.
Marilah kita bersama-sama, dengan isak tangis dan penyesalan yang tulus, bermohon kepada Allah agar dikuatkan hati kita untuk hijrah menuju kebaikan. Agar dosa-dosa kita diampuni, agar kesalahan kita ditutupi, dan agar kita kelak wafat dalam keadaan husnul khatimah, dalam ridha-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.